Search This Blog

Loading...

Thursday, 21 May 2009

Perang, pemerkosaan dan perempuan!

Beberapa jam lalu saat mengaktifkan internet dan sibuk membaca di Facebook, aku mendapatkan sebuah link dari Cilla; teman di Melbourne tentang petisi penghentian pemerkosaan dalam perang sebagai metode perang khususnya dalam kasus di Afrika, di Kongo dan Angola. Usai menandatangani petisi di Cause di Facebook : “Stop Rape as as weapon of war” , pikiranku melayang jauh ke belakang, jauh ke serpihan kenangan masa kecil yang mengendap, jauh ke berbagai berita yang pernah kubaca dan semuanya seakan mencair dan mengisi ruang batinku dan membuatku ingin berteriak: Kapankah perempuan lebih dihargai hak – hak seksualnya?

Mungkin catatanku kali ini adalah sebuah cerita blak – blakan tentang pendapatku, cerita yang menginspirasi novel dan cerita – cerita pendekku, pendapat tentang hak seksual perempuan khususnya yang berkenaan dengan pelecehan dan pemerkosaan.

Mengapa perempuan selalu menjadi objek seksual dari kaum lelaki? Mengapa beberapa hukum di negara – negara dunia ke tiga dimana lelaki mendominasi seakan tak berpihak pada perempuan dan hak seksual mereka? Mengapa perempuan yang hidup dalam budaya patriarki dimana lelaki mendapat hak yang istimewa dibanding perempuan harus terus hidup dalam keadaan tertekan dimana mereka mempunyai beberapa pembatasan tentang seksualitas mereka? Mengapa dan entah sejuta mengapa terus menggantung di benakku sejak kecil.

Saat membaca tentang pemerkosaan sebagai metode perang, aku tiba – tiba teringat suatu artikel sejak lama, sejak SD kalo tak salah, tentang artikel para korban pemerkosaan dalam perang. Dalam artikel yang kubaca pada sebuah tabloid atau majalah perempuan itu (aku menjadi ‘pemulung’ majalah bekas dari tetangga sejak SD), aku mendapatkan sebuah penggambaran singkat tentang korban – korban seksual selama perang. Artikel itu membahas tentang ‘Jugan Lanfu’ alias para budak seks tentara Jepang pada perang dunia II, tetapi diberikan beberapa gambaran tentang kerasnya kehidupan perempuan saat perang.

Dalam pembahasan lain, sempat kubaca juga tentang faktor budaya yang mempengaruhi para korban pemerkosaan dalam perang. Masih kuingat sebuah penjelasan bahwa pada negara – negara di Asia, khususnya di Asia Tenggara, aku lupa pada negara mana, bahwa perempuan diibaratkan sebagai kapas putih, jadi harus terjaga, sekali kapas jatuh dalam comberan, ia tak akan pernah bersih lagi dan menanggung malu seumur hidupnya. Hal ini sedikit berbeda dengan sebuah paham di sebuah negara di Amerika Selatan (aku lupa nama negara itu), yang pasti ada kepercayaan lokal bahwa para perempuan yang mengalami pemerkosaan dalam perang, mendapatkan sebuah keistimewaan dalam sukunya. Entahlah …. Tapi yang pasti aku percaya bahwa masih banyak budaya yang menganggap bahwa kehormatan perempuan adalah di atas segalanya.

Pemerkosaan dalam konflik bersenjata apalagi dalam perang adalah sebuah mimpi buruk bagi perempuan. Aku tak tahu bagaimana pendapat orang lain tapi bagiku ini adalah sebuah kejahatan perang apalagi kalau korbannya adalah para remaja atau anak – anak. Ada banyak taktik yang digunakan dalam perang apalagi yang berkenaan dengan menaklukkan suatu daerah. Pada zaman dahulu, kadang taktik memperkosa perempuan dari pihak lawan dipakai antara pihak yang bertikai agar menghancurkan mental musuh. Saat perempuan dari pihak lawan telah diperkosa dan diusahakan para perempuan korban menjadi hamil, maka mereka menanam sebuah bom waktu dalam generasi; sebuah calon generasi yang tercuri identitasnya. Kasus – kasus ini telah terjadi berulang kali dalam sejarah hidup manusia di planet ini; mulai dari kasus Muslim Bosnia, kasus di Afrika dan juga beberapa daerah konflik lainnya.

Kasus – kasus seperti ini bukan terjadi karena kekhilafan para tentara pria yang tak bisa menahan hawa nafsu mereka, bukan karena kehangatan para pendamping hidup mereka tak berada di sana, tetapi pada suatu upaya sistematis menghancurkan mental dan semangat lawan, yaitu dengan menitipkan trauma dan benih. Karena perempuan yang terperkosa bisa siapa saja; saudara perempuan, anak perempuan, istri, kekasih, tunangan perempuan ataupun nenek, ibu ataupun ipar dari pihak lawan. Pemerkosaan ibarat menyebarkan virus teror kasat mata bercampur baur dengan kebencian. Taktik ini semakin parah apabila lawan berasal dari etnis dan ras yang berbeda. Para korban yang jelas – jelas adalah perempuan mempunyai kemungkinan hamil dan melahirkan para anak yang tak direncanakan dan diinginkan. Anak – anak tanpa identitas budaya, anak – anak yang tertolak dalam budaya. Tekanan sosial dan psikologi yang dialami perempuan korban pemerkosaan semakin parah apabila anak yang mereka lahirkan ternyata berbeda fisik dan ras dengan mereka dan keluarga besar mereka. Taktik ini sungguh melukai hatiku sebagai perempuan, karena taktik ini ibarat menanam bom waktu yang terus berdetak dalam bentuk warisan genetik musuh di dalam tubuhmu sendiri.

Perempuan baik muda maupun tua, anak – anak maupun oma – oma, dalam perang ataupun konflik bersenjata sangat rentan, mereka kerap dipakai hanya sebagai budak seks, penyalur nafsu syahwat. Anak – anak bayi dibunuh agar ibu mereka bisa dijadikan budak nafsu, gadis – gadis cilik diculik dijadikan ‘peliharaan’ militer. Perempuan menjadi rentan karena rahim perempuan adalah ibarat lahan subur yang siap ditanami benih, yang memberikan tempat untuk hidup dan berkembang dengan baik bagi benih yang entahlah apakah lahir dari cinta ataukah pemaksaan kehendak seksual. Bagi rahim perempuan, ia tak bisa melihat dengan jelas tentang asal usul benih karena baginya ia adalah ‘ibu’ yang selalu menerima ‘anak – anak’ yang dititipkan padanya dan mencoba merangkul dan memberikan makanan.

Isu pemerkosaan terus mengingatkanku tentang berbagai kekerasan ataupun efek konflik bersenjata yang berkaitan dengan pelecehan dan pemerkosaan yang bukan hanya terjadi jauh di benua Afrika, tetapi di sebuah bumi bernama Indonesia. Mulai dari kasus pemerkosaan etnis Tionghoa 11 tahun silam, pemerkosaan - pemerkosaan yang terjadi dalam konflik sipil di Ambon dan juga cerita selentingan yang beredar usai kejatuhan orde baru di daerahku tentang aksi para oknum militer khususnya saat DOM yang hingga tak terselesaikan di tanah Papua yang lagi – lagi tak jauh dari isu seksual ini; PEMERKOSAAN.

Apakah manusia menjadi begitu rakus, tamak, tak tahu diri hingga kehilangan kontrol sebagai manusia? Mengapa taktik ini sampai diinfiltrasikan dalam militer hanya guna mematikan semangat lawan? Mengapa manusia begitu tak manusiawi dalam menjalankan sisi kemanusiaan mereka dan malah lebih mengedepankan sisi ‘kebinatangan’ mereka? Entahlah, karena aku tak tahu jawabannya.

Yang pasti, perempuan adalah makhluk yang berharga dan rentan dalam berbagai konflik. Luka trauma dibunuh tak sekeji luka diperkosa, saat dipaksa melakukan tindakan seksual yang tak diinginkan. Ada rasa malu, tak berharga, rendah diri, kecewa, sakit hati bercampur baur menggurat dalam kalbu, mewariskan insomnia dan mimpi buruk, mematahkan semua simbol kepercayaan pada orang lain khususnya lelaki, menolak diri sendiri dan rentan bunuh diri. Betapa keji pemerkosaan sebagai alat perang.

Perempuan adalah makhluk terindah yang kutahu, yang kuat dalam hidup mereka, bahkan jauh sebelum dilahirkan. Mereka, sebagaimana anak – anak dan penduduk sipil, berhak mendapatkan perlindungan dalam konflik bersenjata. Mari buat perubahan bagi mereka karena aku dan dirimu terlahir dari perempuan. Hidup perempuan!

0 comments: