Untuk dia yang terus menginsirasiku untuk terus berjuang dan bersemangat, yang mengajarkan ketabahan dan kesabaran menghadapi hidup.
========
Saat mengerjakan tugas, tiba – tiba sebuah SMS masuk di HPku, dari seseorang yang jauh di sana, di sebuah tanah bernama Papua. SMS yang isinya sejak hampir 6 tahun tak pernah berubah dari cara pengirimannya. SMS yang tak pernah memakai huruf besar, yang kadang – kadang tanda bacanya salah terpasang, yang tak pernah sekalipun memakai simbol emotikon dan selalu berlimpah kata ‘ok’.
Aku mengingat lelaki ini sebagai bagian terbesar dari hidupku. Lelaki yang paling setia dalam hidupku, yang menginginkan yang terbaik untukku. Lelaki yang selalu mengirimkan SMS kala telepon selularnya diaktifkan kala senja, pukul 6 P.M. Lelaki yang nada SMSnya tak pernah berubah sejak aku tahu cara mengoperasikan SMS. Lelaki yang menanyakan tentang kesehatanku, bercerita tentang keadaan di rumah maupun lingkungan; tentang siapa yang baru saja melahirkan, baru saja meninggal, tentang masalah rumah tangga di rumah, tentang kelakuan para bandit kecil di rumah dan ikan – ikan di kolam belakang rumah.
Lelaki ini yang padanya kuberjarak 20 tahun, membuatku begitu memimpikan mendapat seseorang seperti dia. Seseorang yang selalu ada kala ku sakit, yang menyemangatiku kala ku sedih dan sakit. Lelaki yang kadang ‘mengancamku’ untuk tak akan membuatkan makanan favoritku atau mengabulkan keinginanku kalau aku tak mau disuntik kala didera malaria. Aku merindukan masakan sopnya ataupun dibelikan soto ayam dan makanan hangat lainnya kala ku sakit. Ia, lelaki yang berbagi suku kata namanya dalamku; Rin, begitu membuat hidupku lengkap sejak kecil.
Banyak orang yang mengatakan bahwa aku berbagi banyak hal dengannya, kecuali tampilan fisikku, dan pada beberapa hal itu, aku percaya bahwa aku benar – benar merupakan warisan kromosomnya yang memilih mandiri. Ia lelaki yang mengajarkan tentang cinta pada lingkungan hidup tanpa perlu menceramahiku tentang ekosistem. Ia hanya mengajarkan lewat sikapnya yang suka menanam pohon dan memberinya sebagai hadianh ulangtahunku sejak aku dan saudara – saudaraku dilahirkan; sebagai pengingat dan juga lambang kemandirian.
Ia, lelaki yang kukenal dalam hampir 26 tahun umurku, yang mengajarkanku untuk janga pernah bergantung pada orang lain, mandiri dan bisa mengandalkan diriku sendiri. Ia lelaki yang memilih menanam sayuran dan bumbu dapur di halaman rumah beserta deretan banyak pohon buah. Aku merindukan deretan pohon pepaya yang ditanamnya dan juga pisang, yang bagiku dan keluarga hanyalah agar tak ada lahan yang kosong. Ia mengajarkan satu hal kecil bahwa kita bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain bila kita mau berusaha lebih keras.
Ia lelaki yang kukenal yang berdiri untukku dan membelaku kala anggota keluarga yang lain tak sependapat denganku dan berniat menjatuhkan semua pendapatku. Lelaki yang tak peduli bagaimana pendapat anggota keluarga yang lain tentangnya kala ia mengijinkan aku melakukan hal – hal tergila dalam masa remajaku selama aku bahagia melakukannya. Tetapi ia juga adalah lelaki tertegas dan terkeras yang kutahu yang tak menginginkan lelaki manapun melukai dan menyakitiku namun ia memilih menyimpan kekecewaanya dalam diam dan membiarkanku menyadari kesalahanku. Ia lelaki yang tak ingin menyakitiku dengan kata – katanya yang kasar dan memilih membuatku menganalisa sendiri dengan cukup mengatakan: “Kalo cari teman, cari teman yang baik” walaupun ia tahu fakta terburuk tentang para lelaki yang menyakitiku.
Ia lelaki yang mengajarkan padaku bahwa kehidupan itu keras dan kita harus selalu berpijak pada realitas dan tak boleh pernah menyerah untuk menaklukan hidup yang keras. Yang mengajarkan aku tentang menggapai impian setinggi mungkin walau ia sendiri cuma lulusan SMP, yang mengajarkan dan mengingatkanku sejak kecil untuk belajar dan terus belajar.
Mengingatnya, hatiku mengenang pengorbanannya untukku sejak kecil.Lelaki yang melepas masa mudanya dengan menggendongku dan membawaku kemana saja, yang menjadikanku rekan balapnya dengan menaruhku di tanki depan motor King dan bergaya dengan kaca mata Chip-nya. Lelaki yang selalu bangga padaku dan selalu membawa dan memperkenalkanku pada rekan – rekan kerjanya. Yang selalu peduli padaku kala kulupa makan, yang mengingatkanku, mengetuk pintu dan membangunkanku kala ku melewatkan jam makan.
Ia lelaki yang bersedia menghadapi pandangan cemoohan orang – orang kala selalu setia memasakkan dan menyuapiku kala terbaring lumpuh selama 1 bulan 1 minggu di rumah sakit, yang bersedia menghabiskan hidupnya antara rumah – RSUD untuk menemaniku, yang tak pernah mau menghakimiku tentang sakitku dan bahkan bisa mengajakku tertawa dan menghadapi kesakitan dengan tertawa. Ia lelaki yang bersedia meninggalkan pekerjaannya dan menggendongku selama 2 minggu bolak – balik ke bangku sekolahku di saat – saat tahun terakhirku di SMA, hingga aku bisa berjalan perlahan dengan kruk. Lelaki yang selalu setia mengantarku berlatih berjalan di halaman rumah dan mencari pengobatan.
Dia, lelaki yang tak pernah merasa gengsi turun ke dapur, meramu masakan dan minuman, yang selalu menyiapkan teh dan kueku sebelum aku bangun pagi. Yang mengisi hari – hari masa kecilku dengan memasakan ‘bubur merah putih’ kala berulangtahun. Dia lelaki yang jarang bersendagurau tapi selalu ada untukku kala kubercerita. Aku merindukan kala makan dan bercerita dengannya. Ia lelaki yang tak terlalu mengharapkanku mengikuti semua tradisi budayanya dan membiarkanku memanggil semua saudaraku dengan nama mereka tanpa embel – embel ‘mas’ atau ‘mbak’.
Aku belajar banyak darinya tentang pribadiku yang sekarang, tentang keadilan. Ia lelaki yang anti kekerasan dan selalu percaya bahwa kekerasan takkan pernah bisa menyelesaikan masalah. Ia lelaki yang belajar banyak dari kesalahan masa remajanya dan mengajarkanku bahwa jalan damai adalah yang terbaik. Lelaki yang mengajarkan bahwa keadilan adalah hal yang perlu dijunjung. Ia mengajarkanku keadilan bukan lewat ceramah berjam – jam tetapi lewat sikapnya yang akan menghajarku dan adikku usai kami berdua berkelahi, dan ia tak peduli siapa yang menang karena usai berkelahi dengan menggunakan semua tinju, tendangan dan pukulan yang kami punya, pada akhirnya kami tetap akan diberi pelajaran di betis kami lewat sabetan rotan karena telah berkelahi.
Ia lelaki terhebat yang kukenal yang mengajarkanku untuk menjadi diriku sendiri, yang tak pernah sekalipun dari kecil memaksaku memakai pakaian perempuan bila tak kuinginkan. Lelaki yang menerimaku apa adanya, dengan segala kegilaanku, segala keanehanku. Lelaki yang akan menjemputku pulang dari acara pesta larut malam, yang akan menelponku bila kutak pulang jam 10 malam, lelaki yang membolehkan anak perempuannya berenang, berjalan kaki pulang dari pantai ke rumah (walau 1 jam lebih). Lelaki yang tak marah bila kupacu motorku dengan kecepatan tinggi di jalanan, kerap ia hanya selalu mengingatkan untuk berhati – hati walau ia tahu aku tetap akan berkeras dengan pilihan kecepatanku. Ia tetap ada untukku dan tak memarahiku walaupun pada akhirnya motor yang kupakai harus mendapat perbaikan usai kecelakaan.
Aku mengingatnya sebagai lelaki yang mendukung minat bacaku sejak kecil, dengan membelikanku majalah Bobo sewaktu kami pulang dari TK, dan dengan gajinya yang terbatas selalu membelikanku semua buku teks pelajaran yang kubutuhkan walaupun buku teks itu pasti akan dipenuhi coretan sketsa fashion dan gambar – gambar abstrak. Ia lelaki yang tak memrotes seberapa banyak buku dan alat tulis yang kuhamburkan bila sibuk menggores sketsa fashion dan bukannya pelajaran.
Dia, lelaki pendongeng pertamaku, yang mendongeng tentang asal mula Ikan Lele dan membuatku tak bisa menyentuh dan mengonsumsi Lele hingga tamat kuliah. Dia, lelaki pecinta pohon, yang mengenalku pada berbagai macam pohon. Dia, lelaki pecinta damai, yang selalu menginginkan agar suasana rumah tenang dan aman.
Aku mencintainya sebagai bagian dari diriku yang tak akan pernah bisa kusangkal, mewarisi kromosomnya, pandangan hidupnya, sikapnya. Aku mencintainya sebagai pahlawanku, pembelaku, sahabatku dan teman berkisah. Aku mencintainya sebagai seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.
Kami kadang berargumentasi tentang langkah yang kuambil, tentang preferensiku, tapi ia selalu bersedia untuk mendengarkan dan mempertimbangkan usulanku. Lelaki yang tak pernah sekalipun melontarkan satu perkataan yang mematikan semangatku, lelaki yang tak pernah sekalipun mengucapkan ucapan yang membuatku terluka sebagai manusia. Lelaki yang memahami diriku yang sensitif.
Kelak, suatu hari nanti, kan kukatakan pada anakku bahwa dalam suatu masa, aku telah pernah bertemu dan disayang oleh seorang lelaki terindah di hidupku; the most inspiring one.
Bila jingga terus bergulir dan akhir 2010 semakin mendekat, kuingin berlari pulang dan memeluknya dan berkata: “Sa bangga jadi ko pu anak, Pa!”.
(Canberra, 27 Mei 2009)
0 comments:
Post a Comment