Search This Blog

Loading...

Tuesday, 19 May 2009

Anak Cucu Adam

Tiba – tiba, aku teringat proyek tulisan pribadiku tahun lalu dan beberapa tahun lalu yang tak sempat kubuat karena kesibukan kuliah dan kerja, tentang tradisi nama dan silsilah keluarga plus pahit – manisnya keluarga besarku. Aku ingin suatu hari nanti, ada satu warisan keluargaku yang kubuat dalam bentuk novel yang mengisahkan dirinya sendiri.

Cerita itu akan kubuka dengan sebuah risalah singkat tentang tradisi nama dan lain, seperti namaku yang merupakan akronim dari nama orang tua dan perpaduan budaya dalam keluargaku. I wish …

Aku adalah segmentasi berbagai unsur yang melebur, yang membuatku unik, berharga dan feel so much alive.

RI : (nama bapak)
NI : (nama mama)

IR : IRian (Daerah asal tete dan nene kandung dari mama)
MA : MAluku (Daerah asal opa dan oma; orang tua angkat mama sejak lahir)
YA : JAwa (awalnya hendak ditulis sebagai ;Irmajasari tetapi karena kedengaran ganjil maka fonem J diganti dengan Y; daerah asal kakek dan nenek dari bapak)
SARI : penggalan dari nama desa nenek di Brebes; Tanggung sari. Aku dan ketiga sepupu cewekku di Jayapura memakai nama ‘Sari’ di belakang nama kami sebagai lambang identitas kami, kecuali adik perempuanku yang malah memakai campuran nama Sunda, India, dan Kristen.

Aku bangga dibesarkan dalam budaya gado – gado dengan perpaduan budaya seperti ini, yang membuatku belajar untuk menghargai pluralitas, kebermajemukan pribadi. Aku percaya semua orang setara di hadapan Tuhan, dan tak ada waktunya untuk mendiskriminasikan orang lain hanya karena mereka berbeda dengan kita. Tak ada waktunya lagi untuk mendiskriminasikan orang karena suku, agama, ras, dan fisik serta pilihan politik, ideologi ataupun preferensi seksual mereka.
Aku mengerti dan sadar serta belajar untuk menghargai setiap elemen yang kupunya, yang bertumbuh dalam keluarga dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda, dimana keluarga besar bapak beragama Islam dan keluarga besar mama beragama Kristen Protestan dan aku merasa baik – baik saja bertumbuh hingga SD dengan merayakan kedua hari besar agama, atau belajar menghargai dan bertoleransi saat tinggal selama 3 tahun di keluarga Pakdeku di Jayapura yang notabene adalah keluarga Muslim.

Aku belajar tentang memahami dan mengerti serta menghargai elemen – elemen budaya di dalam hidupku, bagaimana keluarga kakek dari bapak yang asli Tegal berbaur dengan keluarga nenek yang keturunan Sunda pindahan dari Cirebon. Aku melihat warisan Sunda itu pada wajah bapakku dan nama Adikku serta bahasanya bapak yang bilingual (Jawa – Sunda).

Aku melihat bagaimana elemen Papuaku bercampur baur seiring dengan sejarah, mulai dari pergantian nama keluarga mama dari oyang yang asli Biak (Mayor yang berasal dari fam ‘Sroyer’ dari Amberparem, pulau Numfoor) bercampur ke ‘Mandacan’ yang asli Arfak dan terjadi akulturasi budaya orang pante dan orang gunung.

Aku belajar bagaimana budaya Maluku yang khas Seram dan Saparua berakar dalam diriku karena orang tua angkat mama sejak lahir mewariskan nilai – nilai, semangat, dan dialek mereka hingga mempengaruhi cara berbicaraku hingga saat ini (teori language acquisition berdampak padaku).

Belum lagi ditambah dengan budaya tetanggaku (bapa guru dan mama suster) yang kuanggap sebagai orang tua keduaku yang mempengaruhiku bertumbuh, budaya orang Tanimbar (Maluku Tenggara) – Portugis – Cina – Kebar – Napan.

Semua budaya itu membuatku begitu kaya, begitu menikmati hidupku, begitu bersyukur bisa merasakan perpaduan budaya yang mengakar dalam bahasa, pola hidup, aksen, kuliner dan lain – lain.

Hingga aku ingin berteriak dengan lantang menantang mereka yang benci dan anti pada pluralitas, yang mendiskriminasikan bahasa, SARA; yang menilai orang dengan membentuk stereotip dari elemen budaya tertentu, sebuah pernyataan besar telah mengakar di hatiku bahwa:

“Kita tak pernah benar – benar paham tentang asal kita, kita tak penah benar – benar mengerti bagaimana nasib merajut identitas kita. Kita tak pernah ‘asli’ sebagai bagian identitas kita … karena jauh ke belakang, beratus jingga, berpuluh tahun, beberapa abad silam, kita adalah manusia – manusia merdeka yang terjalin erat dalam pertalian nasib, yang terhubung lewat tali – temali kasat mata pertalian darah.”

Stop Diskriminasi Ras, ‘cos we’re one!!! Anak cucu Adam …

0 comments: