Search This Blog

Loading...

Sunday, 5 April 2009

Lawan jadi teman, teman jadi lawan

Dear Friend,
Malam ini, tanggal 21 September 2006 pukul 8. 54 PM saat sa mulai mengetik surat ini, suasana kamar saya yang berukuran 3 X 5 meter ini, lagi tenang dan sangat nyaman (menurut saya lho). Saya katakan nyaman karena setidaknya saya punya satu tempat nongkrong yang cukup hangat saat hujan lagi deras – derasnya mengguyur kota Manokwari di penghujung bulan September yang lembab ini. Saya masih punya kesempatan mendengarkan lagu – lagu dari perangkat lunak komputer saya sambil duduk mengetik surat ini dan menikmati secangkir susu berkalsium tinggi tanpa lemak; masih punya kesempatan merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, dan paragraf menjadi sebuah wacana yang bernama surat ini. Walau pada beberapa menit yang lalu, saya sempat mendapatkan sejumlah ketukan di pintu kamar saya, sekedar mengingatkan jam makan malam, pinjaman buku, ataupun sekedar teriakan dari my lil’ bro (yang badannya lebih besar dari sa) kalau ada acara bagus di TV. Pada beberapa hal, sangat mengganggu konsentrasi tapi .... that means that they care about me! Jadi, sa cuma mo bilang thanx God untuk malam yang dingin ini.

Keadaan sa malam ini boleh dibilang quite ordinary like the other nights; masih setia nongkrong di kamar sambil mendengarkan lagu, ngetik – ngetik ataupun sekedar membaca buku. Cuma, yang membedakan, malam ini sa baru saja bangun tidur pukul 8 PM karena kecapaian. Ya, walaupun ini bukan pertama kalinya sa harus bangun saat mentari su balik ke peraduannya. Mmh hampir lupa nih, ini surat terakhir sa di bulan ini, karena nanti setelah tanggal 4 Oktober baru sa kirim surat lagi. Sa mo bilang saja kalo tanggal 23 September – 4 Oktober, sa ada di Sorong Selatan ikut pelatihan Pemetaan hutan. Jadi, ya getho deeeeeeeeh....

Mmh satu topik yang sa tra pernah lupa bahas, apalagi kalo bukan cinta. Saat ini, kayaknya sa harus benar – benar mantapkan hati untuk ‘melajang’ dulu ... bukannya apa, tapi ternyata nyusun skripsi pada Bab 2 & 3, bikin sa stress dan kepala sakit eeee, jadi macam kalo mo berencana cari my ‘alter ego’ ... mmh bisa – bisa skripsi ko cari jalan lain suda ... alias bisa keteteran. Memang sa akui, sekarang ini ada dapat kenalan cowok baru yang ‘rajin’ telpon dan SMS, tapi ya masih sekedar teman ... he .. he .. he dan lagi – lagi, namanya berinisial A.

Oh ya, sa hampir lupa nih, tadi siang saat sa di kampus, pas jam makan siang dan sempatkan diri have lunch di kantin kampus, iseng – iseng sa bawa satu buku baru yang sa su beli 2 bulan lalu saat liburan di Jayapura dan membacanya (walau baru sampe di bab 7 dari 33 bab). Tau ka trada, buku itu ternyata kecil tapi bermanfaat sekali buat dibaca, tentang sepak bola sih, tapi bukan tentang teknik sepak bola. Buku yang berjudul Kick ‘n Goal!: Cara Unik melihat sisi hidup manusia lewat kacamata Sepak bola karangan Gheeto TW dan diterbitkan oleh Gradien Books (bisa didapatkan di TB. Gramedia) ini dalam banget membahas bagaimana kita melihat diri kita sendiri sebagai manusia tapi dari perspektif sepak bola. Buku yang sebenarnya ber-genre motivasi dan pengembangan diri ini dikemas dengan bahasa yang ringan bahkan bagi anak SMU pun akan mengerti dengan baik. Buku kecil berukuran layaknya sebuah Novel Agatha Christie dan setebal 156 halaman ini ternyata menyajikan banyak hal yang beyond my imagination about soccer; lebih dalam dari perkiraan sa tentang jenis olah raga ini. Jadi buat yang tra hobi bola, buku ini tetap layak untuk dipertimbangkan guna parkir di lemari buku anda. Pada paragraf berikutnya, sa mo coba bahas hal – hal apa saja yang bisa saudara dapatkan di dalam buku ini, tapi sori pasti tra sedalam ‘acara bedah buku’ di sa pu mata kuliah.

Buku kecil ini bercerita dengan gamblang dan menggunakan bahasa yang super duper ringan dan gaul tentang pemain sepak bola dan korelasi mereka dengan makna kehidupan. Pace Gheeto ini bilang kalo ada banyak hal yang bisa tong pelajari dari para pemain bola, baik dari segi positif dan juga negatif. Sa ambil contoh dari hal 19 Bab 2 yang judulnya “Kiper juga manusia; soal keterbatasan manusia”. Pace Gheeto ko kasi penjelasan mendetail tentang de pu pandangan pribadi tentang kiper bola yang ideal tuh yang bagaimana ka, mulai dari yang bodi mantap, cara tangkap bola seperti Spiderman sampe yang agak galak. Pokoknya pace ko kupas sejarah para kiper dunia mulai dari yang ada di belahan utara sampe selatan, mantap eeeee. Trus, ternyata dari cerita tentang kiper sana sini, eh buntutnya pace ko bilang apa, sa kutip eee de pu kata – kata: “Ternyata kiper yang bagus, bukanlah kiper yang sama sekali tidak pernah kebobolan; tapi yang kebobolannya minimal” (hal. 20).

Trus ada lagi de pu pernyataan yang bikin sa berpikir keras dan merenungkan sa pu hidup, ini masih tentang kiper juga, yaitu di hal 21, saat de bilang begini: “Sisi baik seorang manusia akan berjalan beriringan dengan kelemahan – kelemahannya. Manusia tidak omnipresence, hadir di segala tempat dalam satu waktu”. Saat sa baca pernyataan ini sa teringat dengan sa pu pengalaman, kadang sa terlalu menjudge orang dan menuntut dong untuk melakukan hal yang sama dengan sa; mengharapkan dong untuk selalu perfect padahal nobody is perfect. Dan kadang, saat sa sendiri tra bisa capai sa pu target dalam bekerja dan belajar, sa malah stress dan tertekan karna tra bisa lakukan sesuatu yang sa anggap harus sa lakukan. Ternyata, itulah keterbatasan sa sebagai manusia dan sa itu memang tidak omnipresence untuk mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sama. Makanya pada hal. 22 ada satu lagi pernyataan yang bikin sa tambah semangat baca yaitu saat kita dituntut untuk menilai orang; apalagi bagi sa yang lagi ‘browsing my alter ego’ nih. “Memandang manusia ternyata harus satu paket. Kelebihan dan kelemahannya perlu jadi pertimbangan.” Mmh, di bagian ini, sa jadi ingat cowok yang sa tolak ... mmh satu paket penilaian getho ... he ... he .. he ...

Oh ya hampir lupa, di buku kecil ini, ada banyak hal yang dibahas antara lain: soal melakukan hal sederhana yang mengubah sejarah, keterbatasan manusia, kesadaran pada waktu, sadar diri dan menilai diri, ketidaksempurnaan manusia, menjaga kualitas hidup, kesetiaan pada hidup, mencapai tujuan hidup dengan fair, disiplin diri, persahabatan dan lain – lain. Pokoknya, ibarat tong lagi duduk baca karya Kahlil Gibran “Sang Nabi” dalam versi abad 21 ... so what getho lho!!! Oh ya sa mo coba ketik satu bab dari buku ini dan sa 100 % merekomendasikan buku ini untuk saudara baca, take a look alias pantau eee!!!

Bab 12
Lawan jadi teman, teman jadi lawan
Tentang Persahabatan

Saat Juan Sebastian Veron dari Argentina direkrut oleh MU yang markasnya di Inggris, rumor berkembang hebat. Kenapa? Pertama, karena kedua negara ini dulu pernah terlibat perang Malvinas. Tapi yang lebih seru adalah, kedua negara ini juga seteru abadi dalam sepak bola. Nah, dengan masuknya Veron ke Inggris, diharapkan dia jadi tidak enak hati saat Inggris ketemu Argentina di Piala Dunia. Entah ada imbasnya atau tidak, tapi kemudian memang di Piala Dunia 2002, Argentina kalah oleh Inggris, walau dengan skor tipis 0 – 1 dari tendangan penalti Beckham.
Kadang saya suka memikirkan; lucu , ya, mereka kadang bisa jadi teman, kadang bisa jadi lawan. Di Juve, Trezeguet yang Perancis tulen, berteman dengan Piero yang orang Italia. Kalau Italia dan Perancis bertemu, mereka jadi “musuh”. Di Inter Milan, Adriano asal Brazil dan Zavier Zanetti asal Argentina berteman. Padahal kedua negara itu selalu bersaing menjadi yang terbaik. Nasionalisme lawan profesionalisme, mana yang menang? Kalau pekerja lapangan hijau sih, berusaha sebaik mungkin untuk enjoy menjalankan keduanya.
Saya tidak bisa membayangkan isi hati pemain Persija, Ortizan Salossa, saat tim yang dibelanya melawan Persipura di final Ligina 2005. Papua adalah tanah kelahirannya, Persipura adalah tim dari daerahnya, dan adiknya Boas ada pula di sana. Ketika ditanya bagaimana rasanya melawan adik sendiri dan tim dari daerahnya sendiri ia berkata, “Biasa saja .... saya harus profesional ....”
Tapi memang begitulah pemain profesional. Dan yang seperti ini sih, sah – sah saja, tidak ada masalah, it’s just a game. Cuma memang saya tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan mereka. Atau, mungkin perasaan bisa dikotak – kotakkan? Entah lah ........
Tapi hidup di dunia nyata, faktanya bisa lebih parah dari ini. Kawan ternyata bisa benar – benar jadi lawan! Istilah yang sering dipakai adalah “menikam dari belakang.” Kalau di sepak bola sih, urusan profesionalitas. Tapi di dunia nyata, akibatnya bisa gawat.
Terus terang saya khawatir sekali kalau menyaksikan lobi – lobi politik. Bukankah tidak asing lagi, ketika satu partai mengajak partai- partai lain untuk mendukung seseorang. Lalu, ketika orang yang didukung sudah mulai tidak menguntungkan, maka partai tersebut mengajak partai – partai yang tadinya mendukung, menjatuhkannya? Bukankah lobi – lobi oportunis selalu terjadi setiap lima tahun sekali? Bukankah yang tadinya temenan, lalu bisa jadi musuhan? Bukan politiknya yang kotor, tapi sikap oportunisnya yang berbahaya. Peduli apa dengan persahabatan, kalau persahabatan itu tidak menguntungkan?
Dalam keseharian juga begitu. Beberapa kali terjadi di beberapa tempat, paman, kakek, atau bapak sendiri bisa memperkosa anak, keponakan, atau cucu kandungnya sendiri. Teman bunuh sahabatnya karena masalah sepele. Bisa bayangkan, jika orang yang paling dipercaya ternyata musuh dalam selimut? Uuh, dendamnya bisa sampai ke relung – relung jantung kalbu.
Saya pernah hidup dengan seseorang yang mengajak saya untuk berkomplot, demi meluruskan jalannya untuk meraih jabatan yang lebih tinggi. Dia jelek – jelekkin atasan kami, supaya dia terlihat baik dan saya bisa jadi pendukungnya kelak, kalau dia yang memimpin. Tapi saya memilih untuk mundur saja. Karena apa? Karena dia akan melakukan hal yang sama, menjelek – jelekkan saya di depan orang lain, kalau saya mulai mengancam posisinya. Maka sudah jadi rumusan baku: kalau ada orang yang mengajak kita untuk menjelek – jelekkin orang lain, maka suatu saat kita juga akan jadi bahan cemoohannya. Teman jadi lawan.
Yahhh, susah memang, cari sahabat tulus di zaman serba fulus ini.

Ok, friend, macam sa su mulai ngantuk ka, padahal baru jam 10. 12 PM cuma otak lagi lelah plus lagi mo siapin fisik yang mantap karna su mo turun lapangan kerja lagi. Ya itulah hidup, kuliah sambil sibuk sana – sini, abis secara pribadi sa akui kalo sa suka kesibukan karena kalo sa tra bajalan ka tra ketemu teman – teman dan tra cerita – cerita ... wuih sa macam mo stress mati, jadi sa harus sibuk, semakin adrenalin terpacu, sa semakin bersemangat menjalani hidup. Maunya sih tamat ini, sa terima tawaran jadi wartawan .... cuma macam sa paling tra suka kejar ‘para pejabat’ dong, abis macam dong banyak yang talalu bikin diri inti jadi ... tapi who knows lah (abis keluarga menginginkan sa bisa kerja menetap, rutin, jadi bisa urus keluarga kelak) ... hidup masih panjang.

Berbicara tentang hidup masih panjang, mmh sa su pu ‘rencana jahat dalam hidup’ nih, usai lulus, sa mati sekolah lagi S2, trus ambil kuliah jurnalistik ka translation begitu. Pokoknya yang praktis – praktis saja, abis kalo yang berat, macam sa pu memori otak langsung mo hang ka, trus mo daftar jadi wartawan beneran. Cita – cita waktu kecil yang tra kesampaian tuh, mmh jadi wartawan perang khususnya dari stasiun TV berita (CNN) dan pergi meliput perang. Cuma sa paling tra suka reportase berita yang cuma menampilkan fakta doang. Dulu, tahun 2004, saat Aceh dilanda Tsunami, sa sangat terkesan dengan satu reportase awal yang dilakukan Najwa Shihab dari Metro TV, saat itu Najwa secara spontan melakukan reportase yang sangat emosional dan menyentuh; seakan – akan mengajak para penonton merasakan tragedi itu. Sa sangat terkesan sekali melihat ekspresinya menangis secara spontan dan melaporkan dengan mata yang agak bengkak, so touch begitu, sampe – sampe reportase itu harus terpotong di sana – sini. Tapi tau ka trada, walau mungkin dari sisi profesionalitas, that’s not quite good in terms of performance, tapi dari sisi humanistik, itu sangat bagus,dan kadang air mata yang spontan lebih bisa bercerita dibanding jutaan kata yang beterbangan bagai mitraliur, mmh sa jadi ingat film Indonesia “Issue” nih he ... he ... he ... 

Btw, su jam ngantuk nih, Deo gratias (bhs. Latin: thanx to God) ...jadi C U and have a nice day. Sorry, suratnya bikin mata sakit eee, jadi kalo mo marah sa, terserah suda, karna sa mo mengutip kata – katanya Eric Cantona, mantan pemain MU (kutipan di buku yang sa bahas tadi, hal 145), “ When People are talking about you, it means that you exist” he ... he ... he ... GBU, arrive derci ...Deus vobiscum (Latin: semoga Tuhan melindungimu). Amen !!!!

No comments: