Sa baru saja selesai membaca sebuah artikel resensi buku berjudul Blue Planet Run terbitan Five Mile Press dalam sebuah majalah Kristen. Buku ini berisikan tentang kumpulan foto, esai, dan beberapa fakta lingkungan dan grafik tentang krisis air global. Setelah baca artikel itu, sa rasa bagaimana eeee, sa rasa bahwa tong di Papua kadang cuma menerima begitu saja apa yang tong miliki dan kadang tong tra sadar bahwa tong begitu diberkati.
Menurut buku ini, air adalah elemen yang su ada sejak dulu dan tra pernah berkurang ataupun bertambah karena de bergerak dalam siklus. Air yang tong pakai saat ini untuk memasak, mandi, minum atau membersihkan, adalah air yang sama yang dipakai oleh tong pu nenek moyang dong beberapa abad silam. Air yang tong pake untuk upacara pembabtisan di gereja adalah air yang sama yang dipakai oleh upacara – upacara adat ritual lainnya di tempat lain dalam waktu yang berbeda.
Air itu bagaikan dua sisi mata uang; de bisa begitu cantik dan jatuh bagaikan hujan di pagi hari, ataukan dalam bentuk embun di malam hari, tapi de juga bisa begitu ganas dan menakutkan dan bisa kasi tabale mobil, kasi rusak gedung, kasi ancur kota, telan perahu – perahu dan masih banyak lagi.
Tapi de juga pu fungsi banyak ka ini. De itu insulator alami, de bisa secara perlahan ubah suhu udara, de bisa ambil tiga bentuk (cair, padat, uap), de bisa jadi jalan raya, de bisa dipake untuk mengekstrak mineral dari bebatuan dan lain – lain.
Air adalah darah bumi, dan air tuh yang jadi 83 persen dari manusia pu darah. Jadi air tuh tong pu aliran kehidupan ka ini, tapi sayangnya tong malah kasi kotor akan dan buang – buang akan dalam tingkatan yang parah ka ini.
Kam tahu, air yang tong pake saat ini tuh bukan tong pu air, itu pinjaman dari bumi. Air yang tong pake tuh juga milik Afrika, Asia, Amerika, Australia dan laini – lain. Karena sekali kam pake, tong tra pernah tau de akan kemana toooo, jadi de bergerak dalam siklus. Karena prinsipnya; apa yang beredar pasti de akan mengalir.
Tong di Papua nih su harus mulai sadar ka ini tentang peran air, karena saat ini sedang terjadi apa yang namanya krisis air global. Karena beberapa negara yang berkuasa sedang mencoba membuat air menjadi komoditas yang hanya bisa dimiliki perusahaan – perusahaan tertentu di saat akses air semakin susah. Kam tra tau ka, kalo ada sekitar 1,1 milyar orang di tempat lain sana ada setengah mati untuk bisa akses air minum yang sehat ka ini.
Air de akan beredar terus dalam d epu siklus tapi tong perlu sadar bahwa jangan sampe de pu siklus ini kaco karena tong pu aktivitas – aktivitas ka ini, khususnya untuk tong pu air tanah ka ini.
Menurut artikel yang sa baca ini, tahun 2006 tuh, Dewan gereja dunia su terbitkan buklet tentang krisis air global yang disebut “Air bagi kehidupan (water for life)” dan pernyataan terpenting dalam buku itu adalah bahwa “pembagian air yang seimbang merupakan ungkapan penting dalam solidaritas global”.
Tapi pada kenyataannya, berdasarkan buku Blue Planet Run, dan juga Blue Covenant (ditulis oleh Maude Barlow), saat ini banyak perusahaan – perusahaan besar telah mencemari air ataupun cadangan air di negara – negara dunia Ketiga alias negara – negara berkembang ka miskin nih dimana dong tra peduli atau seidkit peduli deng kehidupan masyarakat setempat, dan hal ini tentu saja su sumbang banyak bagi krisis air dunia.
Menurut buku ini, su banyak hal yang terjadi di bumi ini, di tempat – tempat macam PNG, Ekuador, Cina, Jaiti, India, Nigeria, Malawi, dan negara – negara Afrika lainnya. Tapi juga terjadi di Amerika Serikat ka ini. Saat sa baca bagian ini, sa langsung ingat tong pu Papua ooooo, neh kam pikir aktivitas pertambangan tuh tra cemari air ka. Sa yakin ada banyak hal yang disembunyikan dalam data – data penelitian tentang dampak lingkungan khususnya air dari aktivitas penambangan dan pembukaan hutan. Kam jang pikir kalo aktivitas penambangan di area – areal logging tra efek ke kualitas air untuk masyarakat lokal di sekitar sana eee, sa pernah dulu jadi relawan untuk LSM lingkungan dan pas duduk sharing deng masyarakat, baru paitua – paitua dong cerita tentang limbah sensoran kayu alias bekas skap2 tuh ka, de bikin merah dong pu mata air ka ini karena dong skap2 dekat mata air ka ini. Itu baru contoh kecil saja eee
Salah satu contoh yang mungkin kam bisa pantau tuh di AS sana, ada beberapa keluarga di West Virginia yang selama bertahun – tahun harus beli air dari trek – trek air dan air gallon ka ini karena dong pu air yang keluar dari keran tuh tercemar dan mengandung batubara ka ini. Jadi dong salahkan Massey Energy, perusahaan batubara yang ada operasi dekat dong pu daerah ka ini, jadi masalah pencemaran air dan degradasi lingkungan terjadi dimana – mana.
Jadi, buku ini de bilang bahwa memang air ko tra akan berubah jumlahnya karena bergerak dalam jumlah dan siklus yang sama, tapi masalahnya air yang layak minum dan sehat tuh makin sedikit ka ini, sedangkan manusia tambah banyak. Sa memang tahu kalo sekarang nih kutub – kutub mulai mencair dan massa air laut makin bertambah, tapi air itu kan tra layak dikonsumsi secara langsung.
Buku ini menganjurkan tong untuk mulai melakukan beberapa hal antara lain: Meningkatkan kesadaran dan mulai berbicara tentang hal ini; tentang pentingnya air layak minum. Trus tong juga mulai berhemat menggunakan air. Dan tentu saja jang lupa untuk jaga sumber – sumber air yang ada.
Tong di Papua nih depu alam su berkembang sejak lama menciptakan kestabilan ekosistem yang mendukung ketersediaan air. Sa jadi ingat waktu kampanye hutan alam di sebuah SMA di Manokwari tentang hubungan hutan dan air di Manokwari.
Nih untuk kasus contoh di Manokwari eee, kalo hutan di Manokwari khususnya di Gunung Meja tra dijaga deng baik dan ditebang, maka dampak yang dirasakan selain suhu yang akan naik, juga cadangan air tanah penduduk di sekitar areal itu plus juga penduduk di pinggir pantai misal di Pasir Putih, Kwawi dll, karena sa pernah baca seorang dosen UNIPA pu tulisan di surat kabar lokal tentang dampak hidrologi dari hutan Gunung Meja plus juga sebuah acara lingkungan di Metro TV. Karena kalo su trada hutan yang tampung air dan menyerap air, maka air ko tinggal jatuh frei – frei dan mengalir ke laut, trus trada yang jadi cadangan air tanah, bisa - bisa tekanan air tanah dan tekanan air laut pada daerah – daerah pesisir berubah, dan akhirnya adalah kalo tekanan air laut yang tinggi maka nan air di pinggir – pinggir pantai tuh salobar betul dan asin nanti. Sedangkan sampe sekarang tuh air masih tawar jadi artinya tekanan antara air tanah tuh masih lebih besar ka ini. Sory kalo penjelasan tra mendetail ka ini, tapi garis besarnya begitu.
Kalo mo bicara air, pasti tra akan selesai – selesai karena deng berhubungan dengan udara, hutan, tanah dan lain – lain dan nanti sa absen kerusakan – kerusakan terlalu banyak lagi ka ini.
Jadi mulai skarang nih, plis … hargai air yang tong pu di Papua, hargai akan dan pake deng bijak. Jang buang sampah ke laut dan kali dan tong kalo bisa mulai bikin kesadaran lingkungan untuk menyuarakan tentang air jadi kalo kegerakan bisa meluas, semoga pemerintah lokal bisa mempertimbangkan para penanam modal yang tra akan rusak lingkungan.
Salam Lestari!
(Disarikan dari artikel resensi buku “Water is life: pass it on” atas buku “Blue Planet Run” dalam majalah Insight volume 19.2, Maret 2009, atau bisa baca artikelnya di www.insight.uta.org.au)
0 comments:
Post a Comment