Al, sekali lagi maafkan aku karna kutak bisa melupakanmu
Kala jarak dan waktu tlah terbentang dan benua telah terlewati, di sana, sebuah titik antara mimpi dan terjaga, ada dan tiada, rasa rindu ini mengendap dan mengristal.
Dua tahun bukan waktu yang cepat, Al. Dua tahun waktu yang cukup lama untuk melihatmu (lagi), bila masih ada kesempatan. Dua tahun tak seperti saat kukerjapkan mata dan langsung terlewati. Dua tahun adalah saat menguji apakah semua yang kita rasakan ini benar adanya.
Al, andai Manokwari – Canberra hanyalah Fanindi – Kampung Ambon. Andai Australia – Papua hanyalah Amban – Sanggeng. Andai “pintu kemana saja” Dora Emon bisa kubajak untuk bertemu kau, Andai alat teletranspotter bisa kupinjam untuk mengantarku padamu …. Andai dan jutaan andai yang lain Al, tapi aku tak itu semua “tra mungkin ya”. Hingga aku percaya hanya Doa yang bisa mengantarkan semua ini bahwa semua rasa ini memang hanya untukmu …. “Ko saja, Al. Trada yang lain.”
Al, pernahkah kau rasakan jatuh cinta dan terperangkap dalam rasa itu? Pernahkan kau merasa bahwa kau sudah tidak bisa jatuh cinta lagi? Bukan karena kau menyimpan benci, sakit hati ataupun dendam …. TAPI karena kau merasa bahwa kau telah menemukan dermaga di pulau kecil yang tenang dan damai, yang tersedia hanya untukmu saja. Seperti itulah Al kau bagiku. Aku bukan terperangkap dalam cinta yang kurasakan, tapi yang kutahu aku memang tidak ingin keluar dari rasa cinta ini, yang menjadi penyemangatku kala hidup, menjadi nyanyian pagi hari mengiringi mentari. Aku …. Entahlah .. aku hanya tahu bahwa “sa sayang ko skali”.
Al, pernah seorang teman berinisial RK memberiku puisi ini, tentang rasa dan cinta, tentang perasaan terdalam dalam benak manusia, aku ingin kau tahu bahwa apa yang kurasakan terwakilkan lewat puisi ini. Aku ingin kau tahu bahwa kau begitu berarti bagiku. Aku ingin kau tahu bahwa aku terlanjur mengunci hatiku dan menitipkan kuncinya padamu. Al, ….
Mengingatmu,
Ada sesuatu yang pecah di hatiku
Hidupku bagai dalam impian surgawi…
Luas, tak bertepi…
Engkau bagiku,
Padang rumput, yang hijau mengundang kerinduanku
Hutanku, kelam terpendam
Tersuruk antara akar – akar dan daun – daun
Lautku, yang dalam biru teduh berkilauan
Bagai permata murni
Gunungku, yang tinggi menjulang, kukuh, bisu…
Dalam kedalamanmu
Aku………mabuk pada semua itu
Segala yang terungkap darimu………
Aku tak berdaya menyebutnya.
Bila waktu itu tetap datang juga, waktu dimana aku harus melepaskanmu sesadar- sadarnya, waktu dimana aku harus membunuh gambarmu di hatiku, membuang semua profil dirimu, waktu dimana kenyataan benar – benar tidak bersahabat dengan moral, etika, dan tanggung jawab .. Aku ingin kau tahu bahwa aku (masih dan akan tetap) sayang padamu.
Entahlah, aku tak begitu tahu dan begitu paham dengan apa yang orang lain pikirkan, aku tahu semua ini di mata mereka adalah kegilaan sesaat, atau biarlah mereka memanggilku ’sesat’, biarlah mereka memanggilku ‘terhilang’ dan ‘buta’. Biarlah mereka memanggilku ‘bodoh’ dan ‘tertipu’ dan ‘merendahkan diri sendiri’. Tapi aku tak bisa menipu hati, Al. Kalau aku bahagia dengan hubungan yang pernah kita jalani walau pernah dipenuhi dengan tipudaya, pengkhianatan, dan rasa dicampakkan.
Al, aku merindukanmu kala melihat langit malam dan menghitung setiap bintang, kala hatiku berbisik lirih, ‘adakah kau lihat langit yang sama dan melihat rindu yang kutitip pada bintang?’. Kala kepekatan malam datang dan mengantarkan suhu yang rendah, adakah kau rasakan keheningan yang membalut hati ini?
Al, aku bukan pencerita pun penutur yang baik .. tapi aku ingin bilang bahwa denganmu, aku belajar banyak hal, belajar memahami orang lain dan bersabar. Belajar mencintai hingga terluka dan kau tahu … aku bersedia menunggu, Al!
Andai saja kau bukan miliknya …..
0 comments:
Post a Comment