

Siang ini aku baru saja menghabiskan bekal makan siangku di bangku – bangku taman depan sebuah gedung bernama HC Coombs Lecture Theater. Makan siang berupa tumisan sawi dan suwiran ikan tuna kaleng sukses mengisi lambungku. Tak lupa meminum sebotol air mineral Frantelle yang ternyata hanyalah spring water.
Ruang dengarku sedari tadi diisi dengan lagu – lagu daerah Papua, mencoba membujuk rasa rindu pulang dan ke pantai. Apalagi nomor HPku sudah kuaktifkan, itulah sebabnya seorang teman di
Tempat kumelabuhkan pantat dan makan siang ini jaraknya hanya sepelemparan batu dari gedung JG Menzies, perpustakaan Asia Pasifik terlengkap di dunia karena semua koleksi terbitan negara – negara Asia dan pasifik berada di salah satu perpustakaan ANU ini. Karena jurusan post graduate-ku yang lebih ke linguistik, maka aku ditempatkan dalam kelompok non eksakta dimana aku harus mengikuti kelas di salah satu gedung perpustakaan. Bersamaku tak lupa juga ada teman diplomatku; mas Budi, ada Rufika, dan juga Saur Marlina Manurung alias Butet Manurung; cewek pengajar di suku Anak Dalam dan penggagas Sokola Rimba.
Musim panas kali ini terasa begitu panas siang ini, membuatku terpaksa memicingkan mata dan mengetik lembaran kisah hari ini. Entahlah, aku tak begitu bisa tahan dengan panas yang cukup membuatku pusing, apalagi udara
Sambil menikmati pemandangan kampus kala siang, melihat berbagai macam ras manusia yang ada, mencari angin di bawah pohon – pohon eucalyptus alias Red Gum tanpa koala. Benar - benar bersyukur untuk hidupku yang diberkati bisa belajar di universitas riset terbesar dan utama di
1 comments:
loha..kax kbr gmn N raih trus cita citamu dan tuakan lewat menulis.
Post a Comment