Search This Blog

Loading...

Wednesday, 28 January 2009

Makan siang



Siang ini aku baru saja menghabiskan bekal makan siangku di bangku – bangku taman depan sebuah gedung bernama HC Coombs Lecture Theater. Makan siang berupa tumisan sawi dan suwiran ikan tuna kaleng sukses mengisi lambungku. Tak lupa meminum sebotol air mineral Frantelle yang ternyata hanyalah spring water.

Ruang dengarku sedari tadi diisi dengan lagu – lagu daerah Papua, mencoba membujuk rasa rindu pulang dan ke pantai. Apalagi nomor HPku sudah kuaktifkan, itulah sebabnya seorang teman di Melbourne sedari tadi mencoba menelpon dan mengirimkan beberapa pesan bahwa kalau aku punya waktu, ia berbaik hati menjadi guide untuk mengantarku jalan – jalan di Melbourne. Kebetulan ia seorang fotografer dan juga backpacker. Ah, tadi tugas IAPku juga masih ada beberapa yang masih belum kukerjakan karena aku terlambat mengikuti orientasi.

Tempat kumelabuhkan pantat dan makan siang ini jaraknya hanya sepelemparan batu dari gedung JG Menzies, perpustakaan Asia Pasifik terlengkap di dunia karena semua koleksi terbitan negara – negara Asia dan pasifik berada di salah satu perpustakaan ANU ini. Karena jurusan post graduate-ku yang lebih ke linguistik, maka aku ditempatkan dalam kelompok non eksakta dimana aku harus mengikuti kelas di salah satu gedung perpustakaan. Bersamaku tak lupa juga ada teman diplomatku; mas Budi, ada Rufika, dan juga Saur Marlina Manurung alias Butet Manurung; cewek pengajar di suku Anak Dalam dan penggagas Sokola Rimba.

Musim panas kali ini terasa begitu panas siang ini, membuatku terpaksa memicingkan mata dan mengetik lembaran kisah hari ini. Entahlah, aku tak begitu bisa tahan dengan panas yang cukup membuatku pusing, apalagi udara Canberra yang kering, sangat beda dengan panas di Papua yang kelembabannya masih terasa. Benar – benar beda, tapi untunglah selama ini aku belum pernah sampai harus mimisan seperti Helen; teman dari Kupang.

Sambil menikmati pemandangan kampus kala siang, melihat berbagai macam ras manusia yang ada, mencari angin di bawah pohon – pohon eucalyptus alias Red Gum tanpa koala. Benar - benar bersyukur untuk hidupku yang diberkati bisa belajar di universitas riset terbesar dan utama di Australia dengan fasilitas perpustakaan terbaik di Australia. Thanx Jesus for my life!

1 comments:

absan said...

loha..kax kbr gmn N raih trus cita citamu dan tuakan lewat menulis.