“Meri, jadi ko belum masak sampe jam begini? Perempuan macam apa ko ini. Laki pulang baru makanan belum siap. Sa lap ko eeee”.
Belum
Tanpa bicara banyak, aku segera ke dapur dan menyiapkan bumbu untuk sayur daun kasbi yang telah kurebus dan kucacah halus sedari pagi. Ikan asar sisa semalam juga telah kusuwir halus dan kuuleni dengan bumbu guna kogoreng kering. Nasi sedari pagi telah kutanak dan tersimpan dengan hangat di dalam penanak nasi elektronik. Aku hanya belum menyiapkan lauk pauk hari ini. Semua ini bukan karena aku enggan atau malas, tapi karena sedari pagi aku harus ke Puskesmas memeriksakan kandunganku yang telah menginjak bulan ke tujuh. Hari ini banyak sekali orang yang pergi ke
Tetapi yang membuatku terlambat memasak adalah hujan yang turun dengan deras sewaktu di Puskesmas. Padahal sedari pagi tak ada awan gelap yang berarak. Aku terpaksa menghabiskan waktu sekitar 1, 5 jam menunggu hujan reda dan kemudian berjalan ke jalan raya menunggu angkutan yang lewat guna mengantarkan diriku pulang ke rumah di pinggiran
Aku heran mengapa Anes begitu mempersoalkan makanan hari ini yang terlambat masak. Sedari kami menikah 1 tahun lalu ia tahu bahwa aku kerap terlambat masak karena pulang terlambat dari tempat kerjaku. Sebagai guru honor di sebuah Sekolah Dasar, aku tak punya banyak pilihan. Aku harus bangun pagi – pagi, menyelesaikan semua pekerjaanku sebagai istri dan bergegas ke tempat kerja pukul 7 pagi. Semuanya baru akan berakhir kala pukul 1 siang. Biasanya setelah pukul 1, aku baru bergegas pulang usai singgah sebentar di pasar. Dan selama ini tak kudengar keluh kesah seputar urusan perut.
Tapi sejak 2 bulan ini aku merasakan ia begitu berubah. Begitu tak perhatian. Begitu tak kumengerti. Apalagi sejak pekerjaannya sebagai operator mesin sensor dihentikan karena perusahaan kayu tempatnya bekerja, ditutup sementara. Rumor yang beredar adalah karena proses hukum yang menjerat pemiliknya terkait dengan kasus pembalakan liar. Sehingga apa lagi yang dapat diharapkan dari seorang suami yang sedang mengalami krisis pekerjaan seperti ini. Mau tak mau, aku menjadi tulang punggung keluarga saat ini.
Aku dan Anes memilih menempati sebuah rumah kontrakan murah berkamar satu, berdinding papan, di pinggiran
Bagi Anes, Manokwari bagaikan rumah keduanya karena ia menghabiskan kuliahnya di Manokwari. Namun gelar sarjananya bahkan tidak menjaminnya untuk memperoleh sebuah pekerjaan tetap yang dapat menghidupi kami dengan layak. Tapi bagaimanapun aku telah cukup bersyukur saat dulu ia diterima di perusahaan kayu, dan aku bersyukur masih bisa mengajar di sebuah sekolah dasar walau sebagai guru honor.
Namun menginjak bulan ke tujuh ini, aku merasakan Anes begitu banyak berubah. Hampir setiap pulang mengajar, aku tak mendapatinya di rumah. Aku selalu berharap dan berdoa dalam hati, mudah – mudahan hari ini ia telah memperoleh pekerjaan. Aku tak terlalu banyak berharap bahwa ia akan memperoleh pekerjaan tetap yang bergaji besar, setidaknya pekerjaan yang dapat membuat kami bertahan dan mungkin bisa menambah biaya persalinanku. Aku sudah mencoba menelpon mama adeku di Jayapura guna meminjam sedikit uang tapi sampai saat ini, belum ada serupiah pun yang masuk ke dalam rekeningku. Jadi aku enggan berharap banyak. Aku sama sekali tak berani menelpon orang tuaku karena campuran rasa malu, dan sedih ditambah lagi kuingat dengan jelas kata mama kala setahun lalu kuputuskan untuk kawin lari dengan Anes.
“Meri, ko dengar. Itu ko pu keputusan untuk kas tinggal nih rumah. Jadi kalo ko su keluar dari pintu dan tong pu kintal ni. Jang harap ko bisa masuk lagi e. Mama dan bapa su
Saat itu, aku tak begitu peduli dengan ucapan orangtuaku karena bagiku Anes adalah segalaku. Aku tahu mama pasti sangat terluka dengan sikapku usai yang dilakukan oleh ketiga kakakku yang lain. Kakak laki – lakiku telah cukup membuat mama dan bapa menderita membayar berjuta – juta denda karena sikapnya yang telah membawa lari dan menghamili pacarnya. Belum lagi dua kakak perempuanku yang membuat pusing dengan tindakan mereka yang cukup membuat mama dan bapa berpikir keras dan membuat mereka lebih tua dari usia mereka. Kaka Mia pernah dikejar istri seorang lelaki karena dekat dengan suami orang, dan lagi – lagi kami harus berurusan dengan urusan sidang adat karena pihak keluarga istri orang itu enggan memperkarakan di pengadilan negeri. Orangtuaku semakin tertekan lagi dengan tindakan kaka Lince yang yang nekat pergi berpetualang ke pedalaman dan tempat – tempat terpencil tanpa memberitahukan orangtuaku, hingga beberapa tahun lalu, seorang lelaki muda berbadan tegap datang melapor ke rumah bahwa kak Lince termasuk dalam anggota tim ekspedisi sebuah proyek penelitian keanekaragaman hayati yang tewas terbalik dari perahu dan jenazahnya tak pernah ditemukan. Semua ini menjadi alasanku menjauhkan diri dari keluargaku.
***
Tiba – tiba pikiranku kembali lagi ke tingkah aneh Anes akhir – akhir ini. Bau alkohol semakin lama semakin kuat keluar dari mulutnya kala pulang. Kami pun jarang lagi menghabiskan waktu untuk keluar bersama ataupun bercerita, apalagi bercinta. Kalau aku pulang lebih awal ia tak pernah ada di rumah. Kerap kutanyakan bapa ade Yakob di ujung jalan, seorang kerabat Anes, tentang ke mana Anes pergi dan hari itu aku mendapatkan sebuah jawaban yang cukup membuatku marah: “Anak perempuan, Anes de ada duduk tuang deng de pu teman – teman di para – para depan pace Rambo pu rumah. Ko pi cek saja suda.”
Saat itu sudah pukul 8 malam, sehingga aku bergegas mencarinya guna memintanya mengantarku ke apotik. Aku mengingat jelas saat tiba di
Satu dua temannya mulai bicara riuh rendah dan saat seorang dari mereka melihatku, ia mencolek Anes dan memberitahu kedatanganku.
“Ipar, sa pinjam Anes sebentar e.
Tapi rupanya Anes enggan menuruti permintaanku walaupun aku memaksa. Aku memintanya lagi dan tiba – tiba suaranya meninggi ditambah sebuah tamparan: “Perempuan bodok. Ko pi sendiri suda, jang ganggu sa dulu. Tra bisa lihat orang lagi senang ka.”
“Bah Anes, temani sa cepat saja, sa pu obat abis nih, dari tadi sa mo jalan tapi ko belum pulang jadi sa tunggu ko. Kalo tra minum sebentar malam nih, nan sa pusing besok. Bah antar dulu ka …. Ko baik baru”, rajukku saat itu.
“Bodok! Ko tra bisa lihat ka sa lagi bikin apa!”, tanpa banyak bicara ia langsung memotong kata – kataku. Tapi yang membuatku sedikit ngeri adalah ia tak pernah begitu kasar seperti malam itu, aku mengingat dengan jelas bagaimana tubuhku terpaksa harus jatuh karena terkena sebuah tendangan dan pukulan. Untung dapat kutepis dengan tangan kananku. Aku bersyukur malam itu teman – teman mabuknya masih bisa menahan Anes dan mama Yako yang kebetulan berjualan pinang di sekitar tempat itu membawaku masuk ke rumahnya dan memeriksa lukaku. Syukurlah tidak ada cedera apapun, hanya bibirku yang sedikit pecah terkena tamparan namun kuputuskan untuk tidak masuk kerja keesokan harinya guna memeriksa kandunganku.
Sejak saat itu, aku begitu berhati – hati menjaga sikap dan perkataanku karena enggan mengulangi kejadian yang sama. Bila ia pulang dalam keadaan mabuk, aku kadang membiarkannya saja. Kerap kali saat ia sadar kunasehati Anes tentang bahaya minuman keras plus mengatakan bahwa tabunganku semakin menipis guna membeli obat dan kontrol ke dokter kandungan. Satu malam kukatakan padanya bahwa kami butuh uang lebih untuk bersalin karena ini akan menjadi persalinan pertamaku. Tapi lagi – lagi Anes cuek dan bilang bahwa aku akan bersalin di rumah, dan bukan rumah sakit karena ia telah menghubungi bidan Maria. Saat itu walaupun sikapnya sangat cuek tapi aku sedikit lega karena kupikir ia telah tahu kewajibannya sebagai calon bapak.
***
Hujan turun dengan deras ditingkahi dengan sahutan gemuruh berkali – kali, membuatku sedikit takut. Sedari tadi bunyi tetesan hujan di atas loyang kuningan di dapur telah menemaniku. Aku gelisah hingga pukul 10 malam, Anes belum juga pulang untuk makan. Sedari siang ia telah pergi tanpa meninggalkan pesan. Bapa ade Yakob memberi informasi bahwa ia pergi dengan beberapa temannya. Perasaanku mulai tak enak, setara dengan perutku yang mulai berasa aneh. Tiba – tiba aku begitu ketakutan kala cairan bening mengalir dengan tenang di antara sela – sela pahaku.
“Mama Sin, Mama Sin, tolong sa.” Teriakku sambil menggedor dinding pembatas kontrakan dengan tetanggaku. “Mama Sin, tolong sa!” sekali lagi kuteriakan panggilan minta tolong.
Tergopoh – gopoh, wanita tua berambut keriting yang telah memudar seiring usianya, berlari ke dalam kontrakanku. Tak sempat lagi ia memakai sandal. Kudengar suaranya memanggil Danny, anaknya. “Danny, cepat ko cari kaka Anes dulu. Bilang dia, de maitua su mo melahirkan. Cepat!!!”
Aku mulai kehilangan kesadaranku kala cairan yang mengalir itu semakin deras keluar. Aku masih sempat menahan perih yang tak terlukiskan dan mencoba bernafas mengikuti arahan mama Sin kala tubuhku telah dinaikkan ke dalam taksi sewaan. Hingga tubuhku diusung ke dalam ruang bersalin, aku tak melihat Anes dan aku sudah tak sanggup berpikir lagi kala kurasakan cairan deras tadi berbau amis, aku mulai pusing, sangat pusing, semuanya bercampur dengan rasa perih, bercampur dengan erangan keras dari bibirku. Setelah beberapa menit perjuangan antara hidup dan mati, aku pun langsung tak sadarkan diri.
EPILOG
Aku tak tahu bahwa hidup akan seperti ini. Sangat pedih! Entahlah, tapi bagaimanapun aku bahagia bisa memberi Anes seorang anak lelaki. Walau harus mencintai hingga terluka seperti ini, tapi ini pilihan yang kubuat karena hidup adalah sebuah pilihan.
Keesokan harinya sebuah
ISTRI SEKARAT MELAHIRKAN, SUAMI PESTA MIRAS
***
(Setiabudi,
0 comments:
Post a Comment